Latest Post
Tampilkan postingan dengan label WISATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA. Tampilkan semua postingan

PETUALANG SEJATI

Written By Unknown on Selasa, 26 Maret 2013 | 00.27

 http://files.myopera.com/bosoncho/albums/1662121/oncho.jpg
Hidup adalah pegembaraan yang berujung. Hari-harimu akan bermakna ketika seberapa banyak tetesan ilmu yang telah kau berikan kepada insan sesama. Kebahagian akan tercapai ketika keikhlasan menyertai segala kesegala sendi-sendi dan darah tubuhmu mengalir dengan lancarnya.
Hari-harimu akan lebih bermakna, jika kau berani berpetualang. Namun, jika kau takut tersesat, maka kau cukup berpesiar saja. Tentukan kapan kau berangkat dan kapan kau akan kembali. Dulu, seseorang berkata kepadaku, "Jika, kau memulai untuk pergi ke suatu daerah untuk pertama kali, maka kau akan bepergian ke banyak daerah berikutnya. Jika, kau sudah memulai untuk pergi ke luar negeri, maka kau akan bepergian ke banyak negara di dunia." Tentukan hari-harimu, semua akan menjadi nyata, jika keyakinan ada dalam hatimu.

Kutitipkan Jejak Kaki di Gunung Bromo

Written By Unknown on Kamis, 21 Maret 2013 | 19.12

REP | Senin, 18 Maret 2013 | 06:41 WIB 
 
1363587725898679242
Sumber: Jejak kaki di Cemoro Lawang
Siang itu aku tiba di Cemoro Lawang. Dari tempat ini kulayangkan mataku jauh ke depan sana. Lautan pasir luas terhampar yang berujung pada dua buah gunung, Batok di sebelah kanan dan Bromo di sebelah kiri. Aku biarkan mataku berlama-lama memandang keindahan yang terpampang di depanku. Dan tak lupa kutitipkan jejak kakiku di Cemoro Lawang yang dingin ini.
---
Berawal dari sebuah tiket promo dari sebuah maskapai penerbangan yang aku beli tahun 2012 lalu dengan harga 60 ribu rupiah untuk tujuan Jakarta – Surabaya pulang pergi, aku pun memanfaatkannya untuk mendatangi destinasi wisata di Jawa Timur. Semula aku merencanakan untuk pergi ke Pulau Bawean di Laut Jawa yang berada dalam wilayah Gresik. Namun karena informasi yang aku dapatkan tentang pulau tersebut masih minim, aku pun mengalihkan tujuan ke Bromo.
Senin malam, 11 Maret 2013 aku berkemas-kemas untuk keberangkatan pesawat Selasa subuh. Sebuah informasi yang kubaca dari Kompas memberitakan bahwa jalur ke Bromo dari arah Wonokitri, Pasuruan ditutup sehubungan peringatan Nyepi. Aku pun sempat bimbang, apakah akan tetap ke Bromo atau mengalihkan tujuan ke tempat lain. Aku putuskan tetap ke Bromo melalui jalur Probolinggo, dengan berharapjalur tersebut tetap dibuka.
Selasa dini hari, aku mengendarai sepeda motor dari Tangerang menuju Bandara Soekarno Hatta (yang sebenarnya juga masih masuk wilayah Tangerang). Jam 01.40 aku tiba di bandara dan tidur sebentar di bangku yang ada di beranda Terminal 3 sambil menunggu pintu check in dibuka. Tampak beberapa calon penumpang lain juga sedang menunggu saat itu. Penerbangan Mandala dari Jakarta – Surabaya jam 04.15 adalah yang paling awal dari seluruh penerbangan semua maskapai yang diberangkatkan dari Terminal 3.
Setelah check in dan menunggu beberapa saat, maka sekitar jam 04.15 pesawat pun berangkat. Aku manfaatkan waktu yang ada untuk tidur kembali di dalam pesawat. Dan beberapa menit sebelum sampai di Juanda, aku terbangun. Aku lihat ke luar jendela, hari sudah mulai pagi. Aku ambil kamera dan kubidikkan menuju barisan pegunungan dengan cahaya fajar yang sudah bersinar. Dan sekitar jam 05.30, pesawat pun mendarat di Juanda, Surabaya.
1363587854489697116
Sumber: Perjalanan menuju Surabaya
Dari Juanda aku naik bus Damri menuju terminal Bungurasih, dan dilanjutkan dengan bus jurusan Banyuwangi untuk turun di terminal Bayuangga di Porbolinggo. Jam 9 pagi bus tiba di terminal Probolinggo. Setelah menunggu hampir sejam, dari Probolinggo perjalanan dilanjutkan dengan mobil carter yang dinamakan Bison menuju Cemoro Lawang. Sempat aku bertanya kepada sopir, apakah jalur ke Bromo ditutup hari itu dan ia menjawab jalur dari Probolinggo tetap dibuka. Jam 11 siang aku tiba di Cemoro Lawang dan selanjutnya dengan bantuan sopir Bison mencari penginapan yang ada di tempat tersebut.
Setelah menitipkan tas di penginapan di Cemoro Lawang, aku pun berjalan kaki melihat pemandangan di sekitar tempat tersebut. Kebetulan memang dari siang sampai malam adalah acara bebas, karena berangkat ke Pananjakan dan Bromo baru akan dilakukan keesokan harinya. Di salah tempat di Cemoro Lawang siang itu, aku pun menemukan pemandangan yang menakjubkan.Aku melihat lautan pasir luas terhampar yang kemudian berujung pada dua buah gunung, Batok di sebelah kanan dan Bromo di sebelah kiri. Wow, indah sekali.
1363587931466474244
Sumber: Penginapan di Cemoro Lawang
1363587968668987248
Sumber: Gunung Bromo dan Batok di kejauhan sana
136359005665674159
Sumber: Narsis dulu ah ...
Keesokan harinya, Rabu jam 4 pagi aku dan beberapa orang lainnya berangkat menuju Pananjakan untuk melihat sunrise. Udara sangat dingin saat itu, sampai-sampai aku harus mengenakan baju rangkap dua dan ditambah jaket rangkap tiga. Berangkat dengan jeep, dan tiba di Pananjakan sekitar jam 04.30. Setelah menunggu beberapa saat di tengah suhu udara yang membuat tubuh menggigil, akhirnya aku pun menyaksikan indahnya matahari terbit dari Pananjakan. Saat hari mulai terang, aku bisa menyaksikan Gunung Bromo dan Gunung Batok yang bersebelahan, sementara di belakang sana berdiri Gunung Semeru yang begitu perkasa. Memang Pananjakan adalah tempat favorit untuk melihat keindahan ketiga gunung tersebut.
13635880771046349292
Sumber: Matahari terbit di Pananjakan
13635881281188380294
Sumber: Gunung Bromo, Batok dan Semeru dilihat dari Pananjakan
Sekitar jam 6 pagi, kami turun menuju Bromo. Jeep berhenti di salah satu tempat, dan perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Sebenarnya bisa juga menyewa kuda untuk naik ke Bromo, namun saat itu aku memilih untuk jalan kaki. Selama perjalanan, tak henti-hentinya para penyewa kuda merayu pengunjung untuk naik kuda. Perjalanan melalui hamparan pasir yang datar, kemudian berganti melalui bukit pasir yang mulai menanjak. Nafasku mulai tersengal, namun aku tetap berjalan kaki dan menolak bujukan para penyewa kuda.
Tiba di kaki Bromo, pengunjung harus berjalan naik melalu beberapa anak tangga menuju puncak atau kawah. Beberapa kali aku terpaksa berhenti beristirahat dan mengatur nafas. Rupanya faktor U (usia) tidak bisa dibohongi, selain faktor P (perut) yang memang menambah berat perjuangan menuju atas. Rasa lelah dan nafas yang terengah, akhirnya berganti dengan kegembiraan ketika sampai di puncak Bromo.
13635882321327334188
Sumber: Kuda sewaan menuju Bromo
1363588323988907018
Sumber: Anak-anak tangga menuju puncak Bromo
1363588380764295721
Sumber: Kawah Bromo
Puas menikmati pemandangan di tepi kawah, aku pun turun menuju tempat parkir jeep. Perjalanan dilanjutkan menuju savana atau padang rumput yang berada di balik Bromo dari tempat jeep tersebut. Sekitar 10 menit berjalan memutari Bromo, akhirnya sampai di savana luas yang hijau menyegarkan mata. Angin yang sepoi pun menambah kesegaran suasana.
13635885011295366096
Sumber: Savana Bromo
136358853996516926
Sumber: Savana Bromo
Dari savana, perjalanan dilanjutkan menuju sebuah tempat yang dinamakan Pasir Berbisik. Dinamakan demikian karena tempat ini pernah dipakai untuk syuting film berjudul Pasir Berbisik yang dibintangi Christine Hakim. Butuh waktu tak sampai 5 menit menuju ke Pasir Berbisik. Di tempat ini, lautan pasir terhampar luas. Di ujung sana, tampak Bromo dan Batok berdiri bersebelahan. Pasir Berbisik menjadi tempat kunjungan terakhir hari itu, dan kami menuju ke penginapan di Cemoro Lawang untuk selanjutnya turun menuju Probolinggo.
1363588708146241201
Sumber: Di Pasir Berbisik
1363588739209029404
Sumber: Pasir Berbisik
Inilah cerita saat kunjungan singkatku ke Bromo minggu lalu. Sebuah keindahan Indonesia yang membuatku bangga dengan kekayaan tanah airku!

CANDI PRAMBANAN

Prambanan
Prambanan Prambanan

Alamat: Jalan Raya Jogja - Solo Km 16 Prambanan, Sleman, Yogyakarta 55571, Indonesia
Phone:  (0274) 496 408 

Koordinat GPS: S7°45'7.1" E110°29'28.1" (lihat peta)
Candi Prambanan adalah mahakarya kebudayaan Hindu dari abad ke-10. Bangunannya yang langsing dan menjulang setinggi 47 meter membuat kecantikan arsitekturnya tak tertandingi.

Prambanan, Candi Hindu Tercantik di Dunia

Candi Prambanan adalah bangunan luar biasa cantik yang dibangun di abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dari Candi Borobudur), berdirinya candi ini telah memenuhi keinginan pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa. Candi ini terletak 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, di tengah area yang kini dibangun taman indah.
Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.
Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.
Memasuki candi Siwa yang terletak di tengah dan bangunannya paling tinggi, anda akan menemui 4 buah ruangan. Satu ruangan utama berisi arca Siwa, sementara 3 ruangan yang lain masing-masing berisi arca Durga (istri Siwa), Agastya (guru Siwa), dan Ganesha (putra Siwa). Arca Durga itulah yang disebut-sebut sebagai arca Roro Jonggrang dalam legenda yang diceritakan di atas.
Di Candi Wisnu yang terletak di sebelah utara candi Siwa, anda hanya akan menjumpai satu ruangan yang berisi arca Wisnu. Demikian juga Candi Brahma yang terletak di sebelah selatan Candi Siwa, anda juga hanya akan menemukan satu ruangan berisi arca Brahma.
Candi pendamping yang cukup memikat adalah Candi Garuda yang terletak di dekat Candi Wisnu. Candi ini menyimpan kisah tentang sosok manusia setengah burung yang bernama Garuda. Garuda merupakan burung mistik dalam mitologi Hindu yang bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah, berparuh dan bersayap mirip elang. Diperkirakan, sosok itu adalah adaptasi Hindu atas sosok Bennu (berarti 'terbit' atau 'bersinar', biasa diasosiasikan dengan Dewa Re) dalam mitologi Mesir Kuno atau Phoenix dalam mitologi Yunani Kuno. Garuda bisa menyelamatkan ibunya dari kutukan Aruna (kakak Garuda yang terlahir cacat) dengan mencuri Tirta Amerta (air suci para dewa).
Kemampuan menyelamatkan itu yang dikagumi oleh banyak orang sampai sekarang dan digunakan untuk berbagai kepentingan. Indonesia menggunakannya untuk lambang negara. Konon, pencipta lambang Garuda Pancasila mencari inspirasi di candi ini. Negara lain yang juga menggunakannya untuk lambang negara adalah Thailand, dengan alasan sama tapi adaptasi bentuk dan kenampakan yang berbeda. Di Thailand, Garuda dikenal dengan istilah Krut atau Pha Krut.
Prambanan juga memiliki relief candi yang memuat kisah Ramayana. Menurut para ahli, relief itu mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan lewat tradisi lisan. Relief lain yang menarik adalah pohon Kalpataru yang dalam agama Hindu dianggap sebagai pohon kehidupan, kelestarian dan keserasian lingkungan. Di Prambanan, relief pohon Kalpataru digambarkan tengah mengapit singa. Keberadaan pohon ini membuat para ahli menganggap bahwa masyarakat abad ke-9 memiliki kearifan dalam mengelola lingkungannya.
Sama seperti sosok Garuda, Kalpataru kini juga digunakan untuk berbagai kepentingan. Di Indonesia, Kalpataru menjadi lambang Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Bahkan, beberapa ilmuwan di Bali mengembangkan konsep Tri Hita Karana untuk pelestarian lingkungan dengan melihat relief Kalpataru di candi ini. Pohon kehidupan itu juga dapat ditemukan pada gunungan yang digunakan untuk membuka kesenian wayang. Sebuah bukti bahwa relief yang ada di Prambanan telah mendunia.
Kalau cermat, anda juga bisa melihat berbagai relief burung, kali ini burung yang nyata. Relief-relief burung di Candi Prambanan begitu natural sehingga para biolog bahkan dapat mengidentifikasinya sampai tingkat genus. Salah satunya relief Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) yang mengundang pertanyaan. Sebabnya, burung itu sebenarnya hanya terdapat di Pulau Masakambing, sebuah pulau di tengah Laut Jawa. Lalu, apakah jenis itu dulu pernah banyak terdapat di Yogyakarta? Jawabannya silakan cari tahu sendiri. Sebab, hingga kini belum ada satu orang pun yang bisa memecahkan misteri itu.
Nah, masih banyak lagi yang bisa digali di Prambanan. Anda tak boleh jemu tentunya. Kalau pun akhirnya lelah, anda bisa beristirahat di taman sekitar candi. Tertarik? Datanglah segera. Sejak tanggal 18 September 2006, anda sudah bisa memasuki zona 1 Candi Prambanan meski belum bisa masuk ke dalam candi. Beberapa kerusakan akibat gempa 27 Mei 2006 lalu kini sedang diperbaiki.
Naskah: Yunanto Wiji Utomo

CANDI SAMBISARI

Sambisari

CANDI SAMBISARI

Alamat: Kalasan, Sleman, Yogyakarta, Indonesia

Koordinat GPS: S7°45'44.9" E110°26'48.7" (lihat peta)
Setelah terkubur selama ratusan tahun, bongkahan pertama ditemukan pada tahun 1966. Memerlukan waktu 21 tahun untuk menggali dan merangkai ratusan keping "puzzle" dari batu itu sebelum akhirnya Candi Sambisari berhasil direkonstruksi.

21 Tahun Merangkai "Puzzle" Candi Sambisari

Tak ada perasaan aneh yang menghinggapi Karyowinangun pada sebuah pagi di tahun 1966. Tapi sebuah kejadian langka dialaminya di sawah kala itu, ketika sedang mengayunkan cangkulnya ke tanah. Cangkul yang diayunkan ke tanah membentur sebuah batu besar yang setelah dilihat memiliki pahatan pada permukaannya. Karyowinangun dan warga sekitar pun merasa heran dengan keberadaan bongkahan batu itu.
Dinas kepurbakalaan yang mengetahui adanya temuan itu pun segera datang dan selanjutnya menetapkan areal sawah Karyowinangun sebagai suaka purbakala. Batu berpahat yang ditemukan itu diduga merupakan bagian dari candi yang mungkin terkubur di bawah areal sawah. Penggalian akhirnya dilakukan hingga menemukan ratusan bongkahan batu lain beserta arca-arca kuno. Dan benar, batu-batu itu memang merupakan komponen sebuah candi.
Selang 21 tahun sesudahnya, keindahan candi akhirnya bisa dinikmati. Bangunan candi yang dinamai Sambisari itu berdiri megah di Dusun Sambisari, Kelurahan Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, 10 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Anda bisa menjangkau dengan berkendara melewati lintas jalan Yogya-Solo hingga menemukan papan penunjuk menuju candi ini. Selanjutnya, anda tinggal berbelok ke kiri mengikuti alur jalan.
YogYES sempat kaget ketika sampai di areal candi. Saat mengarahkan pandangan ke tengah areal candi, hanya tampak susunan batu atap yang seolah hanya bertinggi beberapa meter di atas tanah. YogYES bertanya-tanya, apa benar Candi Sambisari hanya sekecil itu? Setelah mendekat, barulah kami mendapat jawabannya. Ternyata, Candi Sambisari berada 6,5 meter lebih rendah dari wilayah sekitarnya.
Candi Sambisari diperkirakan dibangun antara tahun 812 - 838 M, kemungkinan pada masa pemerintahan Rakai Garung. Kompleks candi terdiri dari 1 buah candi induk dan 3 buah candi pendamping. Terdapat 2 pagar yang mengelilingi kompleks candi, satu pagar telah dipugar sempurna, sementara satu pagar lainnya hanya ditampakkan sedikit di sebelah timur candi. Masih sebagai pembatas, terdapat 8 buah lingga patok yang tersebar di setiap arah mata angin.
Bangunan candi induk cukup unik karena tidak mempunyai alas seperti candi di Jawa lainnya. Kaki candi sekaligus berfungsi sebagai alas sehingga sejajar dengan tanah. Bagian kaki candi dibiarkan polos, tanpa relief atau hiasan apapun. Beragam hiasan yang umumnya berupa simbar baru dijumpai pada bagian tubuh hingga puncak candi bagian luar. Hiasan itu sekilas seperti motif-motif batik.
Menaiki tangga pintu masuk candi induk, anda bisa menjumpai hiasan berupa seekor singa yang berada dalam mulut makara (hewan ajaib dalam mitologi Hindu) yang menganga. Figur makara di Sambisari dan merupakan evolusi dari bentuk makara di India yang bisa berupa perpaduan gajah dengan ikan atau buaya dengan ekor yang membengkok.
Selasar selebar 1 meter akan dijumpai setelah melewati anak tangga terakhir pintu masuk candi induk. Mengelilinginya, anda akan menjumpai 3 relung yang masing-masing berisi sebuah arca. Di sisi utara, terdapat arca Dewi Durga (isteri Dewa Siwa) dengan 8 tangan yang masing-masing menggenggam senjata. Sementara di sisi timur terdapat Arca Ganesha (anak Dewi Durga). Di sisi selatan, terdapat arca Agastya dengan aksamala (tasbih) yang dikalungkan di lehernya.
Memasuki bilik utama candi induk, bisa dilihat lingga dan yoni berukuran cukup besar, kira-kira 1,5 meter. Keberadaannya menunjukkan bahwa candi ini dibangun sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa. Lingga dan yoni di bilik candi induk ini juga dipakai untuk membuat air suci. Biasanya, air diguyurkan pada lingga dan dibiarkan mengalir melewati parit kecil pada yoni, kemudian ditampung dalam sebuah wadah.
Keluar dari candi induk dan menuju ke barat, anda bisa melihat ketiga candi perwara (pendamping) yang menghadap ke arah berlawanan. Ada dugaan bahwa candi perwara ini sengaja dibangun tanpa atap sebab ketika penggalian tak ditemukan batu-batu bagian atap. Bagian dalam candi perwara tengah memiliki lapik bujur sangkar yang berhias naga dan padmasana (bunga teratai) berbentuk bulat cembung di atasnya. Kemungkinan, padmasana dan lapik dipakai sebagai tempat arca atau sesajen.
Bila telah puas menikmati keindahan candi, anda bisa menuju ke ruang informasi. Beberapa foto yang menggambarkan lingkungan sawah Karyowinangun sebelum digali dan kondisi awal candi ketika ditemukan bisa ditemui. Ada pula foto-foto tentang proses penggalian dan rekonstruksi candi yang berjalan puluhan tahun, termasuk foto benda-benda lain yang ditemukan selama penggalian, berupa arca dari perunggu yang kini disimpan di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala.
Keindahan Candi Sambisari yang kini bisa kita nikmati merupakan hasil kerja keras para arkeolog selama 21 tahun. Candi yang semula mirip puzzle raksasa, sepotong demi sepotong disusun kembali demi lestarinya satu lagi warisan kebudayaan agung di masa silam.
Naskah: Yunanto Wiji Utomo
Photo & Artistik: Agung Sulistiono Mabruron

Copyright © 2007 YogYES.COM

Asyiknya Sore-sore Ngemil Internet Plus Pisang Bakar!

Flora Febrianindya - detikFood
Browser anda tidak mendukung iFrame

thumbnail 

Jakarta - Menunggu macet saat jam pulang kantor, paling enak jika mampir ke warung roti bakar langganan. Ngobrol santai bareng sambil ditemani dengan semangkuk Internet yang mengepul. Jejak gurih dan pedasnya kemudian dibilas dengan segelas Ovaltine dingin. Wah, nikmatnya!

Mengenyangkan perut di daerah Tebet bukan perkara sulit. Di seantero Tebet, dari Tebet timur, barat dan utara, penjual makanan berjejer rapi. Mau makan apa? Sushi? Steak? Sandwich? Soto? Seafood? Semuanya ada di lokasi berdekatan.

Kebetulan sore ini kami berada di kawasan Tebet. Mencari tempat nongkrong yang murah meriah, kamipun memilih sebuah warung Indomie plus roti bakar yang sudah kesohor di Tebet, Wafa 99. Untuk ukuran warung mie instant dan roti bakar, lokasinya lumayan luas dan menunya beragam.

Di jam pulang kerja, beruntung masih ada satu meja yang kosong. Wah, rupanya jam pulang kerja Wafa 99 dipenuhi pengunjung. Tampak mereka yang pulang kerja, bahkan para siswa berseragam sekolah. Tak heran, karena warung ini sudah lama ada makanya jadi tempat nongkrong andalan.

Di bagian depan, tampak kesibukan para karyawan warung yang sibuk membuat Indomie dan juga membakar roti serta pisang. Meski tersedia menu nasi goreng, mie goreng, pecel ayam, bebek, rawon dan soto, menu andalan seperti Indomie, pisang bakar dan roti bakar tak pernah bergeser.

Indomie telur kornet (Rp.8.000) plus segelas Ovaltine dingin (Rp. 6.000) jadi sasaran . Terbayang kuahnya yang gurih mengepul dicampur dengan sambal cabai halus yang bikin rasanya jadi lebih pedas dan segar. Ah, menu sederhana ini memang selalu bikin kangen. Apalagi sore sedang hujan, jadilah pilihan yang paling mantap!

Sekitar 20 menit menunggu, internet pesanan diantar. Di bagian atas tampak daging kornet yang warnanya merah tua, dengan paduan daun sawi plus bawang goreng di atasnya. Mumpung masih hangat, saya langsung mengaduk mienya. Hmm, rasanya gurih dan nikmat di lidah.

Supaya lebih mantap, sedikit garam dan sambal halus pun kami tambahkan di dalam mie. Sambal ini terasa lebih mantap dibandingkan dengan saus botolan yang justru merubah cita rasanya. Kornetnya terasa agak manis di lidah, membuat paduan gurih pedas dan manis yang enak, apalagi jika dinikmati bareng kerupuk warung yang kriuk-kriuk renyah!

Usai menandaskan semangkuk internet, sayapun beralih pada seporsi pisang bakar. 3 buah pisang raja berukuran mungil ditumpuk dan ditutup dengan parutan keju, siraman susu kental manis dan taburan cokelat meisjes. Tampak susu kentalnya begitu melimpah memenuhi dasar piring.

Pisang bakar memang jadi pelengkap paling sedap jika makan di warung Indomie. Rasanya manis legit dengan rasa gurih dari keju. Sayang, penggunaan susu kental manisnya terlalu banyak. Akhirnya meninggalkan jejak manis yang terlalu lekat di mulut.

Lepas dari makanannya, atmosfer santai di Wafa 99 ini memang selalu bikin kangen. Suasana santai membuatnya jadi destinasi anak muda untuk sekedar nongkrong sambil mengenyangkan perut! Mampir yuk, mumpung sore ini sedang mendung!

Protes Konsumsi Daging, Aktivis Spanyol Ini Tampil Mirip Daging Mentah

Flora Febrianindya - detikFood
Browser anda tidak mendukung iFrame

thumbnail 

Jakarta - Sekilas, wadah pipih berlapis plastik bening ini mirip dengan kemasan daging mentah. Di sekelilingnya terdapat bercak darah segar, lengkap dengan label informasi di bagian atasnya. Namun isinya bukanlah irisan daging merah, melainkan tubuh manusia!

Para aktivis di Spanyol punya cara tersendiri dalam menyuarakan pendapat. Dalam sebuah acara bertajuk Day Without Meat di Barcelona, mereka berhasil menyedot perhatian pengunjung yang hadir. Bagaimana tidak, mereka membungkus diri di dalam kemasan mirip wadah daging mentah yang dijual di swalayan!

Aksi tersebut dilakukan dalam acara "Day Without Meat", yang diselenggarakan di Cathedral Square, Barcelona, Spanyol. Dalam acara yang diselenggarakan tanggal 20 Maret 2013 ini, para aktivis dari kelompok Animal Equality menggelar aksi ini.

Mereka menggunakan pakaian dalam yang warnanya senada dengan kulit. Kemudian mereka tidur di wadah mirip kemasan daging mentah, lalu diberi bercak-bercak merah menyerupai darah segar cair yang sudah tercampur dengan hawa dingin. Tak lupa, di bagian hidung diberi lubang agar bisa tetap bernafas.

Seperti dikutip dari Denver Post (20/03/2013), Day Without Meat merupakan acara untuk memperingati hari tanpa daging. Dalam websitenya, Animal Equality menyebutkan jika kelompoknya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik akan penderitaan dan kematian hewan, serta eksploitasi dan angka konsumsi hewan yang berlebihan.
 
Support : Creating Website | bosoncho Template | bosoncho
Copyright © 2011. BOSONCHO - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by moh ina royana
Proudly powered by Blogger