Merry Wahyuningsih - detikHealth
Kamis, 21/03/2013 18:32 WIB
Pemalang, Membiasakan diri untuk cuci tangan pakai
sabun (CTPS) pada kondisi-kondisi tertentu kadang masih diabaikan oleh
masyarakat. Tapi hal itu tidak akan terjadi di Desa Pendowo, Pemalang.
Tiap rumah di desa ini menyediakan tong air dan sabun di depan rumahnya
untuk menjadi sarana CTPS keluarga.
Ada 1.083 rumah di Desa
Pendowo, Kecamatan Bodeh, Kabupatan Pemalang, Jawa Tengah. Ada 1.083
tong air dan sabun pula yang disediakan warga di setiap pekarangan
rumahnya. Konsep CTPS sepertinya sudah melekat dalam kehidupan
sehari-hari warga desa Pendowo.
"Cuci tangan sebelum dan sesudah
makan, sepulang sekolah, sebelum dan sesudah buang air besar, sepulang
bermain, sebelum memegang adik bayi," jawab seorang siswa TPA
Al-Furqaan, desa Pendowo, dengan lantang saat ditanya kapan harus
mencuci tangannya.
Beda lagi dengan ibu-ibunya. Saat ditanya
kapan harus mencuci tangan, para ibu menjawab, "Sebelum menghidangkan
makanan, sebelum memegang bayi, sebelum menyuapi bayi, sebelum dan
sesudah buang air besar, sebelum dan sesudah makan."
Warga desa
Pendowo sadar betul bahwa tindakan cuci tangan pakai sabun yang
sederhana, dapat membawa dampak besar pada kesehatan dirinya dan
keluarga.
"Ini sudah kami lakukan sejak tahun 2012. Ada 1.083
rumah dan ada 1.083 tong air dan sabun juga di depan rumahnya. Kalau
sudah punya kran, dia tidak lagi pakai tong," jelas Acih, dari Pokja
(Kelompok Kerja) IV Kecamatan Bodeh, Pemalang, saat berbincang dengan
detikHealth, saat kunjungan dalam rangka 'Hari Air Sedunia 2013', Kamis
(21/3/2013).
Menurut Acih, tong yang disediakan tidak perlu
mahal-mahal. Cukup tong bekas cat yang dilubangi dengan besi panas,
diisi air bersih, lalu ditempatkan di depan rumah. Tak lupa juga
dilengkapi dengan sabun dan lap kering. Di dekat tong air biasanya juga
disediakan tempat sampah.
Dengan menempatkan tong air di depan
rumah, artinya akan memudahkan setiap anggota keluarga untuk mencuci
tangannya setiap kali akan masuk rumah.
"Jadi kalau anak-anak
pulang dari sekolah bisa langsung cuci tangan. Kita taruh juga tempat
sampah, jadi kalau habis beli jajan, makan cuci tangan dulu, sesudah
makan cuci tangan, lalu buang sampahnya di tempat sampah," tutur Acih.
Memang
tidak mudah untuk meyakinkan setiap warga di desa Pendowo untuk mau
melakukan praktik CPTS. Menurut Acih, untuk menjadi desa yang sehat
tantangannya adalah mengubah perilaku. Sebelumnya, masyarakat belum
sadar arti penting cuci tangan yang benar.
Maka Untuk
menyosialisasikannya, setiap ada pertemuan desa, seperti pertemuan
posyandu, pengajian, kader-kader desa selalu memberikan pengarahan dan
contoh tentang pentingnya CTPS yang benar.
Alhasil, di tahun 2012
seluruh rumah tangga yang ada di desa Pendowo, sudah mengerti dan
mempraktikkan CTPS. Rencananya, desa ini juga akan diikutsertakan dalam
lomba desa PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat) tingkat nasional.